My New Baby–New Business (II)

Sambungan dari cerita saya yang ini, gara- gara kejadian masa lalu, sekarang, saya kalau pengen memulai usaha, seringkali yang dilakukan adalah ‘bermain aman’. Bermain aman sehingga tidak usah takut kalau bangkrut, tidak usah takut ada yang dikecewakan, tidak usah takut kalau ga laku, ga usah takut kalau merugi, ga usah takut ga bisa balikin uang pinjeman, dan ga usah takut dikejar- kejar debt collector (yang ini lebay, kebanyakan nonton berita kriminal di TV :P). Efeknya, saya jadi ga serius kalau memulai usaha (bisnis, red). Semua beneran berjalan berdasarkan mood dan kebutuhan aja. Kalau lagi mood, bisa tuh saya produksi barang sendiri langsung banyak, mesin jahit bisa bekerja rodi siang malam, bisa punya semangat 45 ga tau malu promosi kemana- mana (etapi kalo promosi emang harus ga tau malu ya?:D). Kalau ga mood (yang ini yang paling sering), siap- siap aja liat mesin jait saya berdebu, kain- kain numpuk ga kepake, dan saya rajin menolak order yang ada😛.

Suami saya kayaknya udah tau banget deh sifat ‘jelek’ saya ini. Jadinya kalau saya punya ide baru bisnis, dia orang pertama yang bakal paling cerewet nanya tentang niat saya sejauh apa, yang setelah itu terus- terusan cerewet ngingetin untuk meluruskan niat awal itu kalau mood saya mulai memudar. Hingga suatu hari saya ngobrol lagi setelah sekian lama dengan seorang teman yang hits dengan buku ‘9 Matahari’ dan ’23 Episentrumnya’, mbak adenita. Obrolan dimulai dari anak, hidup, suami, sampai ujung2nya ngobrolin bisnis. Intinya, sadar punya kebutuhan yang sama–ibu menyusui yang pengen tampil keren di dalam dan luar rumah. Ditambah lagi masing- masing individu punya backgroud ‘kekuatan’ yang berbeda (dia kuat di networking-marketing-sales, dan saya di bagian desain-produksi), beneran modal yang kuat untuk memulai bisnis. So, Voila, muncullah bayi mungil–bisnis startup :em.en.o nursing wear.

Usaha ini benar- benar baru tapi menyenangkan buat saya.  Baru karena sebelumnya saya ga pernah bikin usaha kongsian, tapi seru dan menyenangkan karena punya dua otak buat mikirin semuanya bareng- bareng. Ga usah ditanya apa ada perang pendapat ya –so pasti ada, tapi disampaikan dengan cara yang haluuuuus tentunya.  Em.en.o juga yang bikin  saya jadi panas dingin untuk beberapa lama. Gara- gara usaha ini, saya harus keluar dari zona nyaman saya. Disebut zona ga nyaman adalah karena selain karena saya harus mulai bertanggung jawab lebih terhadap apa yang sudah disetujui bersama dan dimulai–(karena punya partner berarti ga bisa berhenti gitu aja kalo lagi ga ada mood :P), punya target yang harus dicapai tiap bulan, plus adalah karena pertama kalinya seumur hidup berbisnis, kami meminjam uang dari orang lain untuk modal usaha! Minjemnya ga tanggung- tanggung pulak😀

Tapi karena em.en.o inilah saya belajar banyak. Belajar untuk membuka mata tentang menyenangkannya berbisnis. Menyenangkan karena bisa menggunakan ilmu saya dalam mendesain, menyenangkan karena punya partner utk sharing memajukan usaha, menyenangkan karena bisa bertemu dengan orang- orang baru, menyenangkan karena beli kain berpuluh- puluh meter itu MENYENANGKAN! Yang paling penting, sangat menyenangkan karena em.en.o membantu saya untuk bisa bangkit dari masa lalu :DD

So why em.en.o is so special than any other nursing wear dress?
Simply because we want to make all breastfeeding mamas happy and enjoy their motherhood moment evey second. We put our love in every piece and we put our value on it.

Background awal em.en.o muncul karena mbak Nita ingin buat daster kece buat para ibu menyusui. Kalau saya inginnya bikin baju menyusui muslim yang masih jarang ada. Plus lagi karena kita pengen bikin baju menyusui yang modelnya ga gitu- gitu aja. Para busui berhak untuk tampil gaya. Para busui juga berhak  tetap nyaman. Karena dua dasar inilah, kemudian  baju em.en.o muncul dipasaran. Sounds cliche, eh? Ini nih yang beda: mulai dari bukaan, kain, sampai after-washing! Banyak banget model- model baju yang ‘ga launching tepat waktu’ karena kami ngerasa kurang ini itu. Kurang lebar bukaannya, jatuhnya baju kurang keren, bajunya ga terlalu enak waktu dipake, bahan enak yang ga nemu- nemu dan so on. Padahal kan biasanya kalo orang berdagang kayaknya ga usah mikirin hal yang beginian ga sih?  Lah, waktu ada baju kita yang begini (bukaan kurang) Mbak Nita-nya langsung sewot. Sebagai konselor menyusui, dia tau bukaan yang besar itu sangat penting untuk mendapatkan latch-on yg tepat dan bonding yang maksimal. Langsung deh baju- baju em.en.o yang belum memenuhi standar kita revisi.Ini dia yang bikin beda, ketika kami ga sekedar jadi penjual ‘barang’, tapi menjadi penjual ‘value’ juga🙂

Kalo Mbak Nita sewot soal bukaan, saya sewot soal kepraktisan. Saya maunya ketika orang beli baju em.en.o, mereka tinggal pakai aja, dan  langsung pergi melakukan aktivitas. Ga usah pikirin harus pake dalaman karena bajunya terlalu tipis, ga usah pikirin harus pake daleman karena bahannya ga nyerap keringat, harus pake manset karena lengannya kurang panjang untuk para hijabers, dll. Iya, hal Ini yang masih peer besar buat saya dalam mendesain setiap kali. Mangkanya saya suka terharu buat para ibu berjilbab yang setia beli produk em.en.o walau berarti mereka masih harus nambah pake cardigan dan printilannya. Disatu sisi, saya merasa desain saya dihargai :,)

we want to make all nursing mamas happy with their breastfeeding moment, and enjoy every moment of motherhood  :)

Emeno-52

 

the owners

Intinya, kami ingin orang mau membeli baju kami untuk yang kedua, ketiga, keempat kalinya bukan hanya karena mereka butuh baju ini, namun karena mereka suka, senang memakainya, jadi mood booster juga untuk membantu mengeluarkan asi mereka. Walau baru punya anak satu, tapi mereka melihat em.en.o sebagai sebuah brand yang para busui izinkan untuk menjadi bagian dalam hidup mereka. Yang akan menjadi partner bersama para ibu hingga anak mereka yang ke lima mungkin? hihihihihi (digetok orang BKKBN nih)

Kalau mau mengulang memori dibalik layar usaha ini setelah berjalan satu tahun, whuih, bikin nangis darah kalau mau lebay. Salah satunya adalah Two-man-show yang tinggalnya berbeda kota. Satu Karawang, satu lagi Jakarta. Setaun ini bisa banget diitung jari kapan kami bertemu tatap muka. Sisanya semua dilakukan via elektronik. Ya email, ya hape *kecup2 si hape* Kerumitan menjadi karena penjait tinggal di Bandung. Bikin nangis kalau lihat struk- struk pengiriman berangka besar karena sering kirim kain 10 kg dari Jkt ke Bandung, atau baju- baju yang udah jadi. Thanks untuk jasa pengiriman JNE dan para kurir *salamin satu2*. Belum lagi tagihan telepon yang besar (eh, ga terlalu sih, untungnya providernya sama,pake Ind*sat pulak) karena semua konsolidasi dilakukan dari telepon. Regular meeting setiap hari rabu juga dilakukan lewat telepon, yang bisa sampai berjam- jam lamanya!

Em.en.o lahir 29 November 2011. Iya, ga kerasa umurnya udah setahun aja ya. Setahun ini banyak banget halangan, rintangan,grinjulan yang kami lalui. Tahun- tahun kedepan, so pasti itu halangan pasti bakal ada. Tapi mudah2an seiring berlalunya waktu, kami–si owner– bisa terus mewujudkan mimpi2 yang ada.

Happy birthday em.en.o, semoga bisa menjadi partner setia para ibu menyusui di Indonesia.

thank you to all mamas, for letting us to be a part of your breastfeeding experience🙂

Love,

Nina–em.en.o

2 thoughts on “My New Baby–New Business (II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s