Meisya, Apa Kabar Dirimu?

26 Mei kemarin neng alit genap berusia 16 bulan.

Aaaaghhhhh…time does move so fast. Waktu pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Karawang, neng alit balik badan aja masih susah. Sekarang?

Sejak 15 bulan, dia udah pintar gunain sendok- garpu buat makan. Pintar dalam arti kata, dia sendokin makanannya sendiri, dia masukin ke mulut sendiri, dan semakin hari semakin sedikit makanan yang jatuh. Yah, emang sih tergantung makanannya juga apaan. Makanan yang diambil masih satu jenis aja. Misalnya nasinya aja, buburnya aja, es krimnya aja, spaghetti-nya aja. Yang paling jago nyendok tuh kalo udah disedian yoghurt, strawberry- banana smoothies, dan tipe makanan lain yang lembut- lembut kenyal gitu. Hasil dari BLW terlihat sudah😀.  I’m such a proud-happy mommy.

Masih tentang makan, awalnya, si bunda masih bekerja keras berusaha  gimana caranya masukin protein hewani ke si neng alit. kalo bentuknya gruntulan (potongan daging, ayam, ikan), sori aja, belum dikunyah udah dikeluarin duluan. Mau bentuk imut- imut (mis: daging/ ayam cincang),kagak awet juga di mulutnya dia. Mau disumputin di makanan (bola nasi, daging didalem) pasti ketauan. Juara lepeh daging deh. Bikin french fries pake daging yang diblender pernah mau. tapi kalo bunda bikinin menu yang sama, sori dori bakal ditolak. Awalnya sedih, tapi si bunda belajar menghibur diri , kalau ceritanya si bola nasi diumpelin daging, si nasi dimakan, si daging sukses dikeluarin lagi; atau spaghetti berdaging yang spaghettinya  dikunyah, dan si daging dikeluarin lagi; berarti dia bisa milah sendiri dalam mulutnya mana yang dimau mana yang ngga kan? *pembelaan*

Eniwei, Naaaah…mulai minggu kemarin, neng alit mulai ‘welcoming’ dunia perdagingan. Ayam kunyah dan telen. Daging kunyah dan telen. Baso kunyah dan telen. Oh…ada waktunya ternyata ya nak? *bernapas lega*

Nah, sekarang yang paling hip sedunia adalah :She’s my little helper. Semenjak maidless 3 weeks ago, sempet bingung gimana caranya ngerjain pekerjaan rumah kalo ada si unyil yang lagi maceuh- maceuhnya. Ternyata eh ternyata, dia udah bisa bantuin bundanyaaa.. Kalo bunda mau masak sayur bayam/ kangkung, dia yang metikin daun- daunnya (beneran, cuman daunnya aja yang dipetikin). Mau motong bawang deelel, dia yang ngupasin bawangnya–even only the first layer, mau nyapu, dia ambil sapu sendiri trus nyapuin–yang bagian ini yang stress, malah makin kotor😛, pulang beli groceries, dia ambil kantong plastiknya satu- satu, and gave it to her mommy–ya iyalah, emang dikasih kemana lagi? Mau jemur baju, dia bantuin ambil gantungan bajunya. Syukurnya, selain merasa terbantu ( I do, really), neng alit bisa belajar tentang hal kecil dari kegiatan sehari- hari. Kali kalo ada lomba nyabut daun bayem, dia juara deh😀. Ternyata ini hikmah dibalik berhentinya ART🙂.

Juru cabut daun bayam

Bisa komunikasi dengan baik is another milestone for her. “Meisya, main sepeda yu..“, langsung dia buka pintu (beneran ya, dia akan jinjit untuk ngeraih gagang pintu. Kalau pintu ga dikunci, berhasillah dibuka) dan pergi ambil sepedanya. “Meisya, cuci tangan yu…“, dia segera pergi ke wastafel, naik ke kursi kecilnya, dan langsung buka keran (Oh yeah, pembuka keran yang handal). “Meisya, pergi yu…“, mulai deh dicoba dibuka gagang pintu mobil. “Meisya, coba kasih ini ke ayah..”, langsung dia lari- lari bawa si ‘ini’ ke ayahnya. Nah, kalo acaranya “Meisya, bobo yu…” dijamin dia bakal langsung kabur buat sembunyi karena ga mau😛

Another thing, Sekarang hobi baru neng alit yang lain adalah menulis. Give her a pen, and she will find out the paper by herself. Udah tau aja dimana si bunda nyimpen kertas. Dan mulailah kami menggambar, corat- coret ga jelas. Si bunda punya satu pulpen, neng alit juga punya. Biasanya, baru lima menit pertama, si kecil minta tukeran pulpen. Fine. Trus nulis- nulis lagi. Lima menit berikutnya, pulpen bunda diminta, sok- sok mau dituker, eh tapi yang ada dia malah langsung ngacir bawa kertasnya trus mojok dan ngeden -_-. Pernah juga neng alit liat tetangga lagi nulis di aspal pake batu kapur. Yang mulai agak was- was, sekarang dia lagi seneng nyorat- nyoret badannya sendiri. Pipi dan paha penuh dengan coretan bolpen. Oh, ga lupa, telapak kaki juga penuh dengan ‘tanda tangan’ dia. Hasilnya menurut saya keren sih, agak artistik gitu😛 *yes, calon desainer!

Corat coret di aspal dalam bimbingan

Begitu si ayah lihat kalau kinerja otak kanan neng alit sudah lebih hit, si ayah bilang, “ayah harus ngajarin meisya aneka jenis material nih…”

2 thoughts on “Meisya, Apa Kabar Dirimu?

  1. halo teh nina. saya Amalina, biasa dipanggil Nna.. salam kenal🙂
    cerita-cerita di blognya ramee. ^__^
    tinggal di karawang di daerah mananya teh? rumah orangtua nna juga di karawaaang.. hoho..😀
    keep writing ya teh, ditunggu postingan selanjutnya🙂 salam buat buat dede meisya😀

    • ninaberkarya says:

      hai Nna, nama kita sama nih.jadi berasa manggil nama sendiri..hihihihi
      wah, sesama orang karawang. asoooy…aku tinggal di daerah galuh mas. dimanakah ituuu? yang pasti bukan di bandung atau jakarta *yaiyalah*
      thanks for the comment and stopping by ya. Jadi bikin semangat lagi buat nulis *YOSH!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s