2011: Tahun Adaptasi

Ga kerasa ya, 2011 udah berlalu begitu aja. Di malam pergantian tahun yang lalu, masih jelas di ingatan, saya dan Hendra masih tinggal di Belgia. Dengan keadaan hamil besar (mau masuk 40 minggu), kami berjalan kaki malam- malam, dingin- dingin, ke rumah teman kami, Dewa dan Iyan, dan bersama- sama teman yang lain berkumpul buat…makan (apalagi coba?:D). Jam 11 malam kami pulang ke apartemen (halah, niat ga sih taun baruan teh?heheh), karena teman- teman yang lain mau pergi melihat detik2 pergantian tahun dekat downtown. Berhubung jalannya agak jauh, dan saya merasa stamina udah payah banget (alasan pisaaaan), jadinya kami pulang deh. Dan masih jelas di ingatan saya…di belokan dekat halte bus, tiba- tiba saya mendapatkan ide memberi nama anak kami ‘Meisya’. Meisya was taken from the word “Meisje’. In netherlands language, it means (little) girl.

Eh, out of topic pisan nya. Sori..sori…

eniwei, 2011 merupakan tahun adaptasi bagi Keluarga Adi Putra, karena di tahun ini, ada dua momen besaaaar yang tentunya butuh adaptasi tingkat tinggi.

Momen pertama,  We’re having a baby! Adapatasi besar di awal tahun. Setelah sebelumnya hanya berdua saja. Only me and him. Dan sekarang, we’re three! Kebayang kan, bentuk adaptasinya banyak banget. Sebelum lahiran, proses ini udah dimulai. Dari yang tadinya ngeceng baju lucu sana sini, mulai nabung demi beli stroller dan pampers *curcol bentar. Selain itu, mulai membiasakan diri dari tidur nyenyak asoi gila mamboi ke acara tidur-bangun-dipepet kanan kiri-plus plus bangun tengah malam karena ada tangisan haus. Mengganti kebiasaan ke Carrefour  belanja bulanan buat beli cokelat Kinder, sekarang buat beli pampers yang lagi sale gede-gedean. Mindset berubah dari sumringah kalau liat sepatu lucu jadi sumringah kalau ada baju bayi yang imut. Yang tadinya badan letoy isi daging klepek- klepek sekarang jadi berotot dan berisi karena gendong anak sambil berdiri seharian, dll.  Syukur alhamdulillah, Allah tidak lupa memberi kami kebahagiaan di tengah proses- proses baru yang kami hadapi.

Momen kedua, Moving back to Indonesia. Pengalaman saya menjadi seorang istri saya lalui pertama kalinya di negeri orang. Makanya saya super deg- degan, begitu tanggal kepulangan kami dari Belgia ke Indonesia sudah pasti. Lah iya, wong saya belum pernah jadi Ibu rumah tangga ‘seutuhnya’ di negeri sendiri. Semakin deg-degan denger omongan orang- orang, yang katanya riweuh pisan, jauh lebih susah dibanding kalau tinggal di luar negeri. Apalagi ketika kami memutuskan untuk tinggal di Karawang, kota yang sangat asing bagi kami, tanpa sanak family bahkan teman yang kami kenal.Tidak hanya saya yang merasakan, tapi juga si ayah dan neng alit. Bersama- sama kami melakukan adaptasi sebagai seorang istri, ibu, suami, ayah, dan seorang anak. Bayangkan dua orang manusia yang sebelumnya tinggal di Jakarta dan Bandung yang ‘serba ada mall dimana- mana’, sekarang tinggal di sebuah daerah yang- mall- paling- kece-nya-aja-Ramayana. Yang tadinya tidur sambil tarik selimut, sekarang harus siap- siap dulu bawa kipas/ remote ac berubung malam aja gerah. Alhamdulillah, ada mba Silvi, si sirion silver yang bantu keluarga Adi Putra memecahkan persoalan bagaimana melakukan mobilisasi ke pasar-rumah-ramayana-carrefour-tuparev untuk membeli kebutuhan, berhubung  disini nyari angkot susah bener cing(thanks to Enin Aki yang udah ngasih soft loan paling soft :D) *Syukurlah Allah masih sangat (bahkan selalu baik) terhadap kami.

Proses beradaptasi yang dilakukan: Mental Tinggal di Karawang disamakan seperti layaknya tinggal di luar negeri. Mandiri tingkat tinggi mode on. Sempet ga tertarik pake pembantu kayak tetangga kanan kiri sampai 10 bulan. Bahkan, aye menyatakan diri udah pro gendong Meisya sambil jemur baju loh. Ga menye- menye juga ga ada sanak keluarga atau teman buat curhat. Toh ada yang namanya teknologi. Plus lagi, dengan mba silvi, cuma satu setengah jam doang kok kalau mau ngetok rumah Enin-Aki di Bandung, atau Kakek Nenek di Jakarta.  So, there’s nothing to worried about, toh?

Aniwei, mulai settled disini. Pelan- pelan tapi pasti. Perjuangan masih tetap ada, halang rintang terus menghadang. Tapi Insya Allah, semua bisa dihadapi.

Salam (goyang) karawang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s